Archive for the ‘Iskandariyah’ Tag

1.12. Aleksander Yang Sebenarnya   Leave a comment


Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa mayoritas pendapat banyak orang mengatakan bahwa yang dimaksud sebagai Zulkarnain dalam Al-Qur’an adalah Raja Aleksander Agung dari Makedonia – Yunani. Namun benarkah demikian?

Dalam kamus Ensiklopedi Wikipedia dikatakan:

“Aleksander dilahirkan pada tanggal 20 (atau 21) Juli 356 SM, di Pella, ibukota Kekaisaran Makedonia di Yunani Kuno. Dia terlahir sebagai putra Filipus II, Raja Makedonia. Ibunya adalah istri keempat Filipus, Olympias, putri Neoptolemos I, raja Epiros. Meskipun Filipus memiliki tujuh atau delapan istri ketika itu, namun Olympias adalah istrinya yang paling utama, barangkali karena dia yang melahirkan Aleksander.

Menurut biografer Yunani kuno, Plutarch, Olympias, pada malam pernikahannya dengan Filipus, bermimpi bahwa rahimnya disambar petir, yang memicu semburan api yang menyebar sampai “jauh dan luas” sebelum padam. Beberapa waktu sebelum pernikahan, dikatakan bahwa Filipus bermimpi melihat dirinya menyegel rahim istrinya dengan menggunakan segel berukir singa, sehingga ia sempat berpikir bahwa istrinya telah hamil sebelum menikah. Begitu juga dengan Olympias, ibu Aleksander, ia pernah merasa bahwa ayah Aleksander yang sesungguhnya adalah Zeus, dan putranya sendiri merupakan dewa yang ia sebut sebagai Dewa Alexander.

Pada hari kelahiran Aleksander, Filipus sedang bersiap-siap untuk mengepung kota Potidea di semenanjung Chalcidike. Pada hari yang sama, Filipus mendapat kabar bahwa jenderalnya Parmenion telah mengalahkan pasukan gabungan Illyria dan Paionia, dan bahwa kuda-kudanya telah memenangkan Olimpiade. Dikatakan pula bahwa pada hari itu, Kuil Artemis di Ephesos—salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno-terbakar. Hegesias dari Magnesia berkata bahwa kuil itu terbakar karena dewi Artemis menghadiri kelahiran Aleksander.

Ketika Aleksander berusia sepuluh tahun, seorang pedagang kuda dari Thessalia menawarkan seekor kuda pada Filipus. Kuda tersebut diberi harga senilai tiga belas talen. Kuda itu tidak mau ditunggangi oleh siapapun, dan Filipus memerintahkannya untuk dibawa pergi. Akan tetapi, Aleksander berkata bahwa rasa takut kuda itu adalah bayangannya sendiri dan meminta kesempatan untuk menunggangi kuda itu. Aleksander berhasil melakukannya. Menurut Plutarch, Filipus, yang merasa sangat senang melihat keberanian dan ambisi Aleksander, langsung mencium putranya itu dan menyatakan: “Putraku, kau harus menemukan kerajaan yang cukup besar untuk ambisimu. Makedonia terlalu kecil untukmu”. Setelah itu, Filipus membelikan kuda itu untuk Aleksander. Kuda tersebut akhirnya menjadi teman perjalanan Aleksander dalam penaklukannya sampai ke India.

Pada tahun 336 SM, Filipus sedang berada di Aigai, menghadiri pernikahan putrinya, Kleopatra, yang menikah dengan saudara Olympia, Aleksander I dari Epiros. Di sana Filipus dibunuh oleh pemimpin pasukan pengawalnya sendiri, Pausanias. Ketika Pausanias mencoba kabur, dia tersandung tanaman anggur sehingga dapat dibunuh oleh para pengejarnya, yang meliputi dua rekan Aleksander, Perdikkas dan Leonnatos. Aleksander dengan demikian diangkat sebagai raja oleh pasukan Makedonia dan bangsawan Makedonia. Dia berusia dua puluh tahun ketika menjadi raja.

Aleksander memulai masa pemerintahannya dengan menyingkirkan orang-orang yang menurutnya berpotensi mengancam takhtanya. Sementara itu, Olympias, ibu Aleksander, memerintahkan bahwa Kleopatra Euridike (istri lain dari suaminya, Filipus) dan putrinya, Europa, dikubur hidup-hidup. Ketika Aleksander tahu tentang hal itu, dia marah pada ibunya.

Setelah kematian Filipus, Aleksander mewarisi kerajaan yang kuat dan pasukan yang berpengalaman. Dia berhasil mengukuhkan kekuasaan Makedonia di Yunani, dan setelah otoritasnya di Yunani stabil, dia melancarkan rencana militer untuk ekspansi yang tak sempat diselesaikan oleh ayahnya. Sebagaimana diberitakan bahwa Filipus sendiri telah menaklukkan sebagian besar negara-kota di daratan utama Yunani ke dalam hegemoni Makedonia melalui militer dan diplomasi. Pada tahun 334 SM dia menginvasi daerah kekuasaan Persia di Asia Minor dan memulai serangkaian kampanye militer yang berlangsung selama sepuluh tahun. Aleksander mengalahkan Persia dalam sejumlah pertempuran yang menentukan, yang paling terkenal antara lain Pertempuran Issus dan Pertempuran Gaugamela. Aleksander lalu menggulingkan kekuasaan raja Persia, Darius III, dan menaklukkan keseluruhan Kekaisaran Persia. Kekaisaran Makedonia akhirnya membentang mulai dari Laut Adriatik sampai Sungai Indus.

Karena berkeinginan mencapai “ujung dunia”, Aleksander pun menginvasi India pada tahun 326 SM, namun terpaksa mundur karena pasukannya nyaris memberontak. Aleksander meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM. Setelah kematian Aleksander, meletuslah serangkaian perang saudara yang memecah-belah kekaisarannya menjadi empat negara yang dipimpin oleh Diadokhoi, para jenderal Aleksander.

Berkat penaklukan Aleksander, muncul koloni-koloni Yunani di daerah timur yang berujung pada munculnya budaya baru, yaitu perpaduan kebudayaan Yunani, Mediterania, Mesir, dan Persia yang disebut dengan Peradaban Hellenis atau Hellenisme. Aspek-aspek Hellenis tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium sampai pertengahan abad 15. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Cina. Khusus di Cina, pengaruh kebudayaan ini dapat ditelusuri di antaranya dengan artefak yang ditemukan di Tunhuang. Aleksander menjadi legenda sebagai pahlawan klasik di berbagai negeri. Aleksander juga muncul dalam sejarah dan mitos-mitos di Yunani maupun di luar Yunani. Aleksander menjadi pembanding bagi para jenderal bahkan hingga saat ini, dan banyak Akademi Militer di seluruh dunia yang mengajarkan siasat-siasat pertempurannya.

Aleksander selama ekspansinya juga mendirikan beberapa kota yang dinamai berdasarkan namanya, seperti Aleksandria atau Aleksandropolis. Salah satu dari kota bernama Aleksandria yang berada di Mesir, kelak menjadi terkenal karena perpustakaannya yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya serta berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia pada masa itu.

Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Aleksander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia). Gelar yang Agung atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang serta keberhasilannya menaklukkan wilayah yang sangat luas. Bisa dibayangkan, bagaimana kehebatan Aleksander yang datang dari kerajaan kecil dan jumlah pasukan yang tidak seberapa, namun mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan besar dengan jumlah pasukan yang sangat banyak.”

peta kekaisaran alexanderPeta Kekaisaran Aleksander serta rute perjalanan yang ia tempuh

Sumber: id.wikipedia.org

Berikut sedikit kisah ringkas Alexander Agung selama perjalanan penaklukannya seperti yang diberitakan oleh Wikipedia:

“Setelah menghabiskan musim dinginnya dengan melakukan kampanye di Asia Minor, pasukan Aleksander menyeberangi Gerbang Cilicia pada tahun 333 SM, dan mengalahkan pasukan utama Persia di bawah pimpinan Darius III dalam Pertempuran Issus pada bulan November. Darius melarikan diri dari pertempuran sehingga pasukannya kacau balau. Dia meninggalkan istrinya, dua putrinya, ibunya Sisygambis, serta sejumlah besar harta. Setelah itu dia menawarkan kesepakatan damai kepada Aleksander. Darius menawarkan akan menyerahkan seluruh wilayah yang telah ditaklukkan oleh Aleksander serta tebusan sebesar 10.000 talen untuk menebus keluarganya. Aleksander menjawab bahwa karena dia kini adalah raja Asia, maka hanya dia sendirilah yang berhak mengatur masalah pembagian wilayah.

Di lain pihak, Yerusalem membuka gerbangnya dan menyerah pada Aleksander. Setelah itu, ia terus maju ke Mesir.

Aleksander memasuki Mesir pada tahun 332 SM, di sana dia dipandang sebagai seorang pembebas. Dia memperoleh gelar “penguasa baru alam semesta” dan putra Dewa Amun di Orakel Oasis Siwa di gurun Libya. Sejak saat itu, Aleksander kadang disebut sebagai putra asli dari Zeus-Ammon, dan mata uang yang kemudian muncul menggambarkan dirinya dengan hiasan tanduk kambing sebagai simbol kedewaannya. Dalam masa tinggalnya di Mesir, dia mendirikan Aleksandria (Iskandariyah), yang kelak akan menjadi ibukota Kerajaan Ptolemaik setelah kematian Aleksander.

Berangkat dari Mesir pada tahun 331 SM, Aleksander pergi menuju ke timur ke Mesopotamia (sekarang Irak utara) dan sekali lagi mengalahkan Darius dalam Pertempuran Gaugamela. Lagi-lagi Darius terpaksa kabur dan meninggalkan arena pertempuran. Aleksander mengejarnya sampai ke Arbela. Gaugamela akan terbukti sebagai pertempuran terakhir dan paling menentukan antara Aleksander dan Darius. Aleksander lalu bergerak menuju Babilonia dan menaklukkan kota tersebut.

taktik guagamelaPenempatan dan pergerakan awal dalam Pertempuran Gaugamela, 331 SM.

Sumber: id.wikipedia.org

Dari Babilonia, Aleksander melaju ke Susa, salah satu ibukota Persia. Setelah itu, Aleksander mengirim sebagian besar pasukannya ke ibukota seremonial Persia, Persepolis, lewat Jalan Kerajaan, dan dia sendiri memimpin tentara-tentara pilihannya melalui rute langsung ke kota tersebut. Aleksander harus menyerang jalan masuk ke Gerbang Persia yang telah diblok oleh pasukan Persia di bawah pimpinan Ariobarzanes dan kemudian menghancurkan Persepolis sebelum garnisunnya dapat mengamankan harta benda.

Aleksander lalu pergi mengejar Darius lagi, pertama-tama ke Media, dan kemudian ke Parthia. Raja Persia itu tak lagi dapat mengendalikan nasibnya, dan dia ditawan oleh Bessus, satrapnya di Baktria dan juga kerabatnya. Ketika Aleksander datang, Bessus dan anak buahnya telah menusuk Darius sampai mati. Bessus lalu menyatakan dirinya sebagai penerus Darius dengan nama Artaxerxes V, sebelum kemudian mundur ke Asia Tengah untuk melancarkan serangan gerilya terhadap Aleksander. Mayat Darius dimakamkan oleh Aleksander di dekat makam para pemimpin Akhemeniyah (Achaemenid) lainnya dengan upacara pemakaman yang suci. Aleksander mengklaim bahwa sebelum wafat, Darius telah mengangkat Aleksander sebagai penerus takhta Akhemeniyah. Kekaisaran Akhemeniyah atau Kekaisaran Persia pada umumnya dianggap telah runtuh dengan meninggalnya Darius.

Setelah menguasai Persia, Aleksander mengambil gelar Persia “Raja dari Segala Raja” (Shahanshah) dan mengadopsi beberapa ciri khas Persia dalam hal berpakaian dan kebiasaan di istananya. Yang paling menonjol adalah adat yang dikenal dengan nama proskynesis. Banyak sejarawan yang memiliki penafsiran berbeda-beda terhadap proskynesis ini. Namun intinya adalah adat tersebut berupa penyembahan terhadap Tuhan yang biasanya dilakukan dengan bersujud diatas tanah. Usaha memperkenalkan proskynesis ini beberapa kali mengalami penentangan dari berbagai kalangan, termasuk oleh para perwira dan orang kepercayaan Alexander.

Mengetahui bahwa banyak satrap dan gubernur militernya yang bertindak melenceng selama dia absen, Aleksander pun menghukum mati beberapa dari mereka dalam perjalanannya ke Susa sebagai contoh bagi yang lainnya. Sebagai ungkapan terima kasih kepada pasukannya, Aleksander membayar lunas gaji para tentaranya, dan mengumumkan bahwa dia akan mengirim prajurit yang sudah tua dan cacat kembali ke Makedonia dengan dipimpin oleh Krateros. Namun, pasukannya salah paham atas niat Aleksander. Mereka pun memberontak di kota Opis, menolak untuk dikirim balik dan secara keras mengkritik usahanya untuk mengadopsi adat dan pakaian Persia, dan upaya masuknya para perwira dan tentara Persia ke dalam unit-unit militer Makedonia. Aleksander mengeksekusi para pemimpin pemberontakan tersebut, namun mengampuni para prajuritnya. Setelah tiga hari, Aleksander sadar dia tidak dapat membujuk pasukannya. Aleksander pun tak lagi memasukkan komando Persia ke dalam pasukan Makedonia, sebaliknya gelar-gelar militer Makedonia kini dapat diberikan untuk unit-unit perang Persia. Maka pasukan Makedonia langsung meminta maaf, dan Aleksander memaafkan mereka. Pada malam harinya, Aleksander menggelar acara makan-makan yang dihadiri oleh beberapa ribu prajuritnya, dan mereka makan bersama. Dalam upaya menciptakan perdamaian yang bertahan antara orang-orang Makedonia dan rakyat Persia, Aleksander mengadakan pernikahan massal di Susa.

Selama di Persia, Aleksander mengetahui bahwa beberapa orang telah menodai makam Koresh yang Agung. Aleksander dengan cepat menghukum mati mereka, karena mereka sebenarnya ditugaskan untuk menjaga makam Koresh tersebut, yang sangat dihormati oleh Aleksander.

Aleksander kini menganggap diri sebagai penerus sah dari Darius. Melihat Bessus sebagai pemberontak yang mengancam takhta Akhemeniyah, Aleksander pun melakukan serangan untuk mengalahkannya. Kampanye militer ini, yang pada awalnya direncanakan untuk melawan Bessus, pada akhirnya menjadi petualangan Aleksander di Asia Tengah. Aleksander mendirikan kota-kota baru, dan semuanya diberi nama Aleksandria, termasuk Kandahar modern di Afghanistan, dan Aleksandria Eskhate (“Yang Terjauh”) Tajikistan modern. Kampanye ini membawa Aleksander melewati Media, Parthia, Aria (Afghanistan Barat), Drangiana, Arachosia (Afghanistan Tengah dan Selatan), Baktria (Afghanistan Tengah dan Utara), serta Scythia.

Bessus dikhianati pada tahun 329 SM oleh Spitamenes, yang memegang posisi tak jelas dalam kesatrapan Sogdiana. Spitamenes menyerahkan Bessus pada Ptolemaios, salah satu rekan terpercaya Aleksander, dan Bessus pun dihukum mati. Akan tetapi, ketika di suatu waktu Aleksander sedang sibuk di Jaxartes dalam rangka menghadapi serbuan pasukan nomad berkuda, Spitamenes malah memimpin pemberontakan di Sogdiana. Aleksander mengalahkan pasukan Scythia dalam Pertempuran Jaxartes dan dengan segera melancarkan kampanye militer melawan Spitamenes. Aleksander berhasil mengalahkannya dalam Pertempuran Gabai. Setelah kalah, Spitamenes dibunuh oleh anak buahnya sendiri, yang kemudian memohon perdamaian pada Aleksander.”

Cukup banyak versi cerita mengenai Aleksander Agung, beberapa diantaranya bersifat buruk, seperti ia adalah seorang pemabuk, seorang gay, dan berzina dimana-mana untuk menyebarkan keturunannya di seluruh dunia. Namun ketiga hal tersebut tidak memiliki bukti yang kuat. Ia dikatakan seorang pemabuk hanya karena senang minum-minum, padahal sewaktu masih remaja ia sempat menyindir ayahnya karena mabuk, dan dikatakan gay cuman karena memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Hephaistion yang merupakan sahabat, jenderal, sekaligus pengawalnya. Kematian Hephaistion sangat menghancurkan mental Aleksander, dan membuat Aleksander amat berduka cita. Hal inilah yang menyebabkan Aleksander dikatakan memiliki hubungan homoseksual dengan Hephaistion. Sedangkan isu mengenai kesenangannya berzina untuk menyebarkan keturunannya tidak memiliki landasan sama sekali. Tercatat, Aleksander hanya menikah sebanyak dua kali, pertama dengan Roxane (Roshanak dalam bahasa Baktria), putri bangsawan Baktria Oxyartes, karena cinta, dan yang kedua dengan Stateira II, seorang putri Persia yang merupakan anak perempuan Darius III, alasannya lebih bersifat politis. Aleksander memiliki dua orang putra, Aleksander IV dari Makedonia, dari Roxane, dan Herakles dari Makedonia dari Stateira. Aleksander kehilangan satu orang anak ketika Roxane mengalami keguguran di Babilonia.

Dalam Wikipedia dikatakan bahwa:

“Green berpendapat bahwa hanya ada sedikit bukti dalam naskah kuno yang menceritakan bahwa Aleksander memiliki ketertarikan pada perempuan, selain itu Aleksander baru memiliki anak pada akhir masa hidupnya. Namun, Aleksander masih relatif muda ketika meninggal dunia, dan Ogden berpendapat bahwa catatan pernikahan Aleksander lebih mengesankan daripada ayahnya pada usia yang sama. Selain istri, Aleksander juga memiliki banyak selir. Aleksander mengumpulkan harem dengan gaya raja-raja Persia, namun dia tidak terlalu sering menikmati haremnya; yang dengan demikian menunjukkan bahwa Aleksander mampu mengendalikan hasrat seksualnya. Ada kemungkinan bahwa Aleksander adalah orang yang tidak terlalu menyukai hubungan seks. Namun, Plutarch menggambarkan bahwa Aleksander tergila-gila pada Roxane sambil memuja dirinya sendiri karena berhasil membatasi nafsunya pada Roxane. Green mengajukan pendapat bahwa dalam konteks pada masa itu, Aleksander banyak berhubungan dekat dengan sejumlah perempuan, termasuk Ada dari Karia, yang akhirnya menganggap dan mengadopsi Aleksander sebagai putranya, dan bahkan Sisygambis, yang diduga meninggal akibat berduka cita setelah Aleksander wafat.”

Sisygambis adalah ibu dari Darius III, Raja Persia, yang pemerintahannya berakhir selama perang dengan Alexander Agung. Setelah Sisygambis ditangkap oleh Alexander pada Pertempuran Issus, ia menjadi setia kepada Alexander, dan Alexander memanggilnya dengan sebutan “ibu”.

Pada Pertempuran Issus (333 SM), Darius meninggalkan keluarga besarnya, termasuk ibunya, istrinya (Stateira I), anak-anaknya, dan orang banyak. Alexander menangkap mereka tetapi memperlakukan mereka dengan baik. Ketika Alexander Agung dan Hephaestion pergi bersama-sama untuk mengunjungi keluarga kerajaan Persia yang ditangkap, Sisygambis berlutut kepada Hephaestion untuk memohon kehidupan mereka, mengira dia adalah Alexander, karena ia lebih tinggi, dan mengenakan pakaian yang mentereng. Ketika ia menyadari kesalahannya, ia jadi malu, tapi Alexander meyakinkan dia dengan kata-kata, Kau tidak salah ibu, orang ini juga adalah Alexander”.

lukisan issusNampak pada gambar diatas; Mosaik Aleksander yang menggambarkan Pertempuran Issus pada tahun 333 SM antara Alexander Agung dengan Darius III dari Persia. Mosaik ini terinspirasi oleh atau disalin dari lukisan Yunani yang selesai pada akhir abad keempat SM, mungkin oleh seniman Philoxenus Eretria. Mosaik ini pernah tersimpan di House of the Faun di Pompeii.

Sumber: en.wikipedia.org

Quintus Curtius Rufus menginformasikan bahwa Sisygambis sangat sulit untuk bisa memaafkan anaknya (Darius) yang meninggalkan keluarganya di Issus. Setelah Darius dibunuh tak lama setelah kekalahannya di Gaugamela, Alexander mengirim tubuhnya kepadanya untuk dimakamkan, dipanggil untuk meratapi kematiannya, namun Sisygambis berkata; “Saya hanya punya satu anak laki-laki [Alexander] dan dia adalah raja dari semua Persia”.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Aleksander akhirnya menikahi cucu Sisygambis (Stateira II), yang juga merupakan putri Darius III pada tahun 324 SM, sebuah peristiwa yang merupakan inti dari pernikahan Susa. Dia ditinggalkan di Susa sebagai tutor untuk mengajar bahasa Yunani, sementara Alexander mengejar penaklukan berikutnya.

Saat mendengar kematian Alexander, Sisygambis mengurung dirinya di kamar dan menolak untuk makan. Dia dikatakan telah meninggal karena kesedihan dan kelaparan empat hari kemudian.

Dari kalimat di Wikipedia tersebut jelas menunjukkan bahwa Aleksander bukanlah ‘tukang zina’.

Selain itu, Aleksander juga pernah dikatakan sebagai orang yang kejam karena telah banyak melakukan pembunuhan. Namun perlu dicatat disini bahwa dalam pertempuran pasti ada pembunuhan. Pembunuhan yang dilakukan Alexander juga sepertinya dilakukan secara terpaksa, karena faktanya ia adalah sosok yang disuka banyak orang dan pernah menaklukkan suatu wilayah dengan cara mengalah. Ya, “Mengalah Untuk Menang!”.

Ini pernah terjadi sewaktu ia berada di Susa (wilayah Persia) yang didiami suku Bakhtiari. Suku Bakhtiari yang menyebut Aleksander dengan sebutan Skander mengatakan bahwa Aleksander bukan hanya tidak mengalahkan mereka, tapi Aleksander juga dipaksa untuk membayar sewaktu bepergian diatas tanah mereka. Di wilayah ini, Aleksander juga menyelenggarakan pernikahan massal yang melibatkan sekitar 80 orang antara penduduk setempat dengan pasukan serta sahabatnya. Pada saat yang sama Aleksander mengatakan bahwa pernikahan antara para pria Makedonia dengan wanita Asia akan didokumentasikan dan bagi yang melakukannya akan diberi hadiah.

baktriaTampak pada gambar diatas, seorang anak pirang yang digendong oleh wanita Bakhtiari. Anak pirang yang tidak biasa di antara Bakhtiari kadang-kadang dikatakan mencerminkan pernikahan wanita setempat dengan tentara Alexander.

Sumber: soas.ac.uk

Begitupula yang pernah terjadi di Punjabi. Di Punjabi, tanah terakhir yang ditaklukkan oleh Aleksander, banyak anak yang diberi nama “Sekunder” bahkan hingga saat ini. Ini disebabkan adanya rasa hormat dan kekaguman pada Aleksander, juga sebagai pengingat bahwa pasukan Punjabi kuno bisa membuat pasukan Aleksander kelelahan sampai akhirnya memberontak pada Aleksander.

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Punjabi yaitu jit jit key jung, secunder jay haar, yang artinya adalah “Aleksander memenangkan begitu banyak petempuran sampai-sampai dia kalah dalam perang”. Pepatah ini merujuk pada orang yang sering menang, namun tidak pernah memanfaatkan kemenangannya.

Semua hal tersebut diatas menandakan bahwa sesungguhnya Aleksander bukanlah sosok yang kejam, padahal jika ia ingin memaksakan kehendak dan membumihanguskan wilayah Susa dan Punjabi tentu bukanlah hal yang sulit baginya.

Ada banyak cerita legendaris mengenai kehidupan Aleksander Agung. Banyak dari cerita tersebut muncul pada masa hidupnya, kemungkinan dimunculkan oleh Aleksander sendiri. Sejarawan di istana Aleksander, Kallisthenes, menggambarkan bahwa air laut di Sisilia surut sebagai penghormatan pada Aleksander dengan tata cara proskynesis. Menulis tidak lama setelah kematian Aleksander, penulis lainnya, Onesikritos, bahkan sampai menulis bahwa Aleksander membuat janji untuk bertemu dengan Thalestris, ratu suku Amazon dalam mitologi. Ketika Onesikritos membacakan cerita itu pada atasannya, salah satu jenderal Aleksander dan kelak menjadi raja, Lysimakhos disebutkan menyindirnya dengan mengatakan, “Aku penasaran saat itu aku ada di mana”.

Dalam abad-abad pertama setelah kematian Aleksander, kemungkinan di Aleksandria, sejumlah cerita legenda dikumpulkan menjadi sebuah naskah yang dikenal sebagai Roman Aleksander, yang di kemudian hari secara keliru disebutkan bahwa itu ditulis oleh sejarawan Kallisthenes dan dengan demikian dikenal juga sebagai Pseudo-Kallisthenes. Naskah tersebut mengalami banyak sekali penambahan dan revisi selama Zaman Kuno dan Abad Pertengahan.

Ada juga naskah Iran atau Persia mengenai Aleksander Agung dalam “Shahnameh” atau “Epik Para Raja” oleh Ferdowsi. Naskah terebut berjudul Eskandarnameh. Di situ diceritakan bahwa Aleksander adalah putra Nahid (Lydia) dan dikirim kembali ke Filipus di Makedonia karena ibunya memiliki bau mulut. Lalu diceritakan bahwa nama Eskandar diberikan karena obat yang diberikan untuk ibunya. Para sejarawan Arab kemudian menyebut Aleksander dengan nama Al-Iskandar.

Dari penjelasan diatas, kita dapat mengetahui bahwa Alexander ternyata tidak seburuk yang dibayangkan banyak orang. Dibalik sikap keras dan tegasnya, ia juga seorang yang bijaksana, pemaaf, dan lemah lembut. Para sejarawan mengatakan Aleksander sering amat bermurah hati kepada musuh yang dikalahkannya. Walau demikian, dari keterangan diatas, ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak kita:

  1. Mengapa Aleksander seakan memaksa kerajaannya untuk mengadopsi berbagai adat-istidat Persia, utamanya proskynesis?
  2. Mengapa Aleksander menganggap bahwa ialah sebenarnya Raja Diraja Kekaisaran Persia dan mengatakan bahwa sebelum wafat, Darius telah mengangkat Aleksander sebagai penerus takhta Achaemenid (Akhemeniyah), padahal ia tidak berada di sisi Darius sewaktu Darius dibunuh?
  3. Mengapa Aleksander sangat menghormati Koresh Agung? Bahkan tega membunuh para pengawal kuburan yang menodai makam Koresh yang Agung?
  4. Mengapa Aleksander dianggap sebagai putra asli Zeus-Ammon di Mesir?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, kita dapat melihat bahwa perjalanan Aleksander mirip dengan perjalanan Darius I. Darius menempuh perjalanan dari Persia ke Makedonia-Yunani, sedangkan Aleksander menempuh perjalanan dari Makedonia-Yunani ke Persia. Selain itu, hal yang agak janggal lainnya adalah sewaktu berada di Eropa, satu-satunya kerajaan yang tidak melawan dan menyerah penuh secara sukarela pada Darius Agung adalah Kerajaan Makedonia, asal-usul dari Aleksander Agung. Maka dari itu, Makedonia tidak dihancurkan dan merupakan kerajaan paling makmur dibanding kerajaan Eropa lainnya, termasuk dibanding kerajaan-kerajaan Yunani. Namun anehnya, justru dari Makedonialah muncul tokoh “sang penakluk” yang seakan ingin ‘membalas dendam’ pada Kekaisaran Persia. Pertanyaannya: “Mengapa bisa demikian?”.

Jawabannya menurut saya, karena sebenarnya Aleksander adalah sosok yang sama dengan Darius, mereka merupakan satu ruh. Jadi Aleksander sesungguhnya adalah malaikat Zulkarnain juga!

Sewaktu Darius I meninggal, kezaliman dan ketidakadilan kembali terjadi dimana-mana. Melalui Persia dibawah pimpinan Darius III, hal tersebut semakin menjadi-jadi, dan menyebar tidak karuan ke negeri-negeri yang ditaklukkan Persia. Ahura Mazda tidak lagi disembah sebagaimana mestinya. Ajaran Zarathustra berubah dari konsep monotheisme menjadi politheisme yang menyembah banyak Tuhan (Dewa). Orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin. Oleh sebab itulah, Allah Yang Maha Kuasa kembali mengirim Zulkarnain dalam wujud Aleksander.

Zulkarnain diturunkan dan diutus Allah untuk menegakkan keadilan, melindungi rakyat yang lemah, menghukum orang yang bersalah, serta memberikan bantuan kepada orang-orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempercayai hari Akhirat untuk menerima pembalasan yang setimpal.

Jadi, merupakan hal yang wajar jika Aleksander berusaha untuk mengajarkan orang-orang bagaimana cara menyembah Tuhan Yang Esa dengan benar melalui apa yang disebut para sejarawan dengan istilah proskynesis. Merupakan hal yang lumrah pula jika ia sangat menghormati Koresh Agung (Cyrus The Great) dan mengaku sebagai “Raja Diraja dari Kekaisaran Persia”, karena sesungguhnya ia juga adalah Raja Darius Agung (keponakan langsung dari Raja Koresh Agung), seorang keturunan asli dari Dinasti Akhemeniyah (Achaemenid) yang mampu menjadikan Persia memiliki imperium yang luas, sehingga menjadi negara adikuasa yang dihormati sekaligus disegani oleh banyak negeri lainnya.

Demikian juga jika ia dianggap sebagai putra asli Zeus-Ammon di Mesir, jadi menjadi hal yang tidak aneh, karena mereka memiliki rupa dan kelakuan yang mirip. Zeus Ammon seperti yang telah disebutkan sebelumnya sesungguhnya adalah Darius alias Zarathustra alias malaikat Zulkarnain, sehingga tidak mengherankan jika rakyat Mesir memiliki persangkaan demikian. Maka dari itu, baik Aleksander maupun Zeus memiliki putra yang bernama sama, yakni Herakles atau yang lebih dikenal dengan nama Herkules, karena mereka memang merupakan pribadi yang sama.

tetradrakhmaTampak pada gambar diatas, koin-koin Tetradrakhma (Tetradrachm). Tetradrakhma adalah suatu mata uang logam perak dari zaman Yunani kuno yang bernilai empat dirham. Di Atena, mata uang ini menggantikan jenis yang lebih rendah nilainya dan lebih kuno, yaitu didrachm (bernilai dua dirham). Mata uang ini dipakai luas dari tahun ~ 510 SM sampai 38 SM. Tampak dari kiri atas: Tetradrakhma dari Amphiolis – Makedonia (325-323 SM), Tetradrakhma dari Tarsus – Asia Kecil (333-327 SM), Tetradrakhma dari Byblos – Fenisia (330-320 SM), Tetradrakhma dari Memphis – Mesir (332-323 SM), Tetradrakhma dari Babel – Babilonia (325-323 SM), dan Tetradrakhma dari Odessos – Trakia (280-225 SM). Berbagai koin tetradrakhma tersebut bergambar kepala Alexander Agung, sedangkan gambar orang tua berjenggot yang duduk di singgasana memakai tongkat dan memegang burung dilambangkan sebagai Zeus. Ini sebenarnya agak mengherankan, karena kedua gambar pada koin itu sering ditampilkan bersama dalam keadaan timbal balik (muka-belakang). Ini sekali lagi menguatkan dugaan bahwa sesungguhnya Alexander adalah Zeus itu sendiri.

Sumber: alexanderthegreatcoins.reidgold.com

Hmm… jadi tidak mengherankan pula jika nama Alexander Agung lebih dikenal sebagai pembuat Dinding Besi di Kaukasus, sebab mungkin ia memang pernah memperbaharui dinding yang pernah dibuatnya tersebut sewaktu ia masih berperan sebagai Raja Darius Agung.

Bukti kuat bahwa Aleksander adalah Zulkarnain muncul dari hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari dan Muhammad bin Rabi’ Al-Jaizi dalam kitab Ash-Shahabah Alladzina Nazalu Mishr, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang Zulkarnain. Beliau mengatakan: “Dia dari Romawi, lalu dia diberi anugerah kerajaan hingga ke Mesir. Dialah yang membangun kota Iskandariyah (Alexandria)”. Hadits ini jelas merujuk kepada Alexander Agung. Kalimat “Dia dari Romawi” disebabkan karena pada masa Rasulullah saw kerajaan Makedonia – Yunani berada dalam penguasaan (teritorial) kerajaan Romawi.

Selain itu, dalam Kitab Daniel 8:5 dikatakan: “Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah..”. Banyak pemuka agama yang menafsirkan bahwa kambing jantan yang dimaksud disini adalah Aleksander Agung. Jikalau ini benar, maka persangkaan saya bahwa Aleksander adalah Zulkarnain semakin kuat, karena kalimat “tanpa menginjak tanah” jelas menunjukkan bahwa ia bukanlah manusia biasa, namun malaikat yang dapat terbang diatas tanah dan melintas di angkasa dengan cepat.

Jupiter AmmonTampak pada gambar diatas, relief Jupiter Ammon (sebutan orang Romawi untuk Zeus) yang bertanduk terrakota  buatan  Romawi pada abad pertama Masehi di Museum Barraco, Roma-Italia. Kata Ammon merujuk kepada Dewa Amun di Mesir.

Sumber: en.wikipedia.org

Demikian pula kisah pada riwayat hidup Darius dalam Kitab Daniel (pasal 5 ayat 31), dimana Darius dikenal sebagai raja dari Media (Persia) yang mulai memerintah pada usia 62 tahun. Usia 62 tahun? Itu adalah usia dimana Darius diperkirakan telah wafat (sebagai Raja Persia) menurut sejarawan modern. Mengapa bisa demikian? Menurut saya, hal ini disebabkan karena setelah dinyatakan wafat sebagai Darius, Zulkarnain muncul kembali alias memerintah kembali sebagai Raja dalam wujud sebagai Aleksander. Maka dari itulah, baik Darius maupun Aleksander disebut ‘Zulkarnain’, yang artinya 2 waktu atau 2 masa; yakni masa ketika ia menjadi Raja Persia dan masa sewaktu ia menjadi Raja Makedonia.

Disamping itu, Biografer Yunani Plutarch (ca. 45–120 M) menggambarkan penampilan Aleksander sebagai berikut:

“Aleksander memiliki kulit terang, rambut pirang, dan mata biru yang mampu melelehkan hati. Bau harum alami keluar dari tubuhnya, begitu kuat sampai-sampai pakaiannya juga ikut wangi.”

Sedangkan sejarawan Yunani lainnya, Arrianus (Lucius Flavius Arrianus ‘Xenophon’ ca. 86 – 160 M) mendeskripsikan Aleksander sebagai:

“Komandan yang tampan dan kuat dengan mata yang satu sehitam malam dan mata yang satunya sebiru langit.”

Dari ciri-ciri perawakan Aleksander diatas, kita bisa beranggapan bahwa ciri-ciri tersebut tidak menampakkan penampilan fisik manusia biasa, dimana mata yang satu berbeda warna dengan mata yang lain, belum lagi bau badannya yang memancarkan bau wangi secara alami. Ini jelas tidak menunjukkan ciri-ciri manusia biasa, tetapi lebih kepada ciri-ciri malaikat yang menyamar.

Sekarang mungkin yang menjadi pertanyaan; “Kalau memang Aleksander adalah Zulkarnain, bagaimana bisa malaikat dilahirkan oleh seorang manusia?”

Allah Ta’ala berfirman: Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. {QS. As-Sajdah 7-9}

Jumhur ulama mengatakan bahwa usia janin mulai ditiupkan ruh kepadanya adalah 120 hari, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abi Abdurrahman Abdilah bin Masud ra: “Sesungguhnya tiap-tiap kamu dibentuk dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nuthfah (mani), kemudian menjadi ‘alaqah selama 40 hari, kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama 40 hari, kemudian dikirimkan kepadanya malaikat meniupkan ruh”.

Begitupula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Malaikat masuk untuk meniupkan ruh kepada janin setelah 40 hari”. (Shahih Musnad Ahmad: 15556).

Dari Firman Allah dan hadits diatas, jelas menunjukkan bahwa ruh ditiupkan ke dalam tubuh janin setelah beberapa hari, agar janin tersebut dapat bergerak. Nah, khusus dalam kasus Aleksander, sewaktu ia masih berupa janin, maka ruh yang masuk ke dalam raganya bukanlah ruh yang ditiupkan oleh malaikat, namun malaikat itu sendiri yang masuk ke dalam raga Aleksander, dalam hal ini adalah malaikat Zulkarnain. Makanya, Olympias, ibu Aleksander, pernah merasa bahwa ayah Aleksander yang sesungguhnya adalah Zeus, dan putranya sendiri merupakan dewa yang ia sebut sebagai Dewa Alexander. Ini karena sebenarnya Zeus alias Zulkarnain-lah yang memasuki raga dari janin yang dikandungnya. Hal ini mirip ketika malaikat Jibril (yang disebut sebagai ‘ruhul qudus’) merasuki raga Nabi Isa yang masih bayi, sehingga ia dapat berbicara.

Firman Allah:

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa..” {QS. 5:110}

Perlu pula diketahui disini bahwa meskipun terkenal karena penaklukannya, peninggalan Aleksander yang bertahan paling lama bukanlah pemerintahannya, melainkan difusi budaya yang terjadi berkat penaklukannya. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Alexander berusaha untuk melakukan pertukaran adat-istiadat serta melakukan pernikahan massal antar suku yang berbeda. Berkat adanya difusi budaya, bangsa-bangsa diharapkan akan saling kenal-mengenal, dan saling hormat-menghormati, sehingga akhirnya mengetahui bahwa mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang sama. Sayang, difusi budaya yang coba dilakukan oleh Alexander disalahartikan oleh banyak orang dan akhirnya diplintir oleh kekaisaran Romawi. Sejarah yang diplintir oleh kekaisaran Romawi inilah yang akhirnya melahirkan Roman Aleksander.

Banyak orang yang beranggapan bahwa kebudayaan Hellenistik yang menyembah banyak Dewa dirintis oleh Alexander Agung, tetapi kenyataannya hal ini sudah ada sejak zaman lampau, dan mengalami masa keemasannya setelah Aleksander wafat, dimana ketika itu perannya akhirnya digantikan oleh keempat jenderalnya (Diadokhoi) setelah sebelumnya diantara para mantan Jenderal Alexander Agung saling berperang untuk merebut hegemoni.

Wikipedia mengatakan:

“Banyak dari wilayah Asia yang tetap berada dalam kekuasaan Makedonia atau di bawah pengaruh Yunani untuk 200-300 tahun berikutnya setelah Alexander wafat. Negara-negara penerus Aleksander yang muncul, setidaknya pada awalnya, merupakan kekuatan dominan pada epos ini, dan 300 tahun dalam masa tersebut seringkali disebut sebagai periode Hellenistik.

Istilah Hellenistik (berasal dari kata Ἕλλην Héllēn, istilah yang dipakai secara tradisional oleh orang Yunani sendiri untuk menyebutkan nama etnik mereka) mula-mula dipakai oleh ahli sejarah Jerman, Johann Gustav Droysen untuk merujuk pada penyebaran peradaban Yunani pada bangsa bukan Yunani yang ditaklukkan oleh Aleksander Agung. Menurut Droysen, peradaban Hellenistik adalah fusi/gabungan dari peradaban Yunani dengan peradaban Timur Dekat. Pusat kebudayaan utama berkembang dari daratan Yunani ke Pergamon, Rhodes, Antioch dan Aleksandria/Iskandariyah. Pada masa ini, pengaruh budaya dan kekuasaan Yunani mencapai puncaknya di Eropa dan Asia. Periode Hellenistik dimulai setelah kematian Aleksander pada tahun 323 SM. Periode ini dicirikan dengan adanya gelombang baru koloni-koloni yang didirikan oleh kota-kota dan kerajaan-kerajaan Yunani di Asia dan Afrika.

Berdasarkan asal-usulnya, inti dari budaya Hellenistik pada dasarnya adalah Athena. Dialek Koine Athena telah diadopsi untuk keperluan resmi lama sebelum masa Filipus II, dan dengan demikian telah tersebar ke seluruh penjuru dunia Hellenistik, serta menjadi lingua franca melalui penaklukan Aleksander. Lebih jauh lagi, perencanaan kota, pendidikan, pemerintahan lokal, dan seni pada periode Hellenistik semuanya didasarkan pada gagasan-gagasan Yunani Klasik, dan berevolusi menjadi bentuk yang baru dan berbeda, yang secara umum dikelompokkan sebagai Hellenistik. Aspek-aspek budaya Hellenistik tetap ada dalam tradisi Kekaisaran Bizantium (Romawi) sampai pertengahan abad ke-15.

Beberapa pengaruh yang tak biasa dari Hellenisasi dapat dilihat dari India, di daerah tempat berdirinya Kerajaan Yunani-India, yang munculnya relatif terlambat. Di sana, di tempat yang jauh dari Eropa, budaya Yunani tampak bercampur dengan budaya India, dan khususnya dengan agama Buddha. Penggambaran pertama Buddha yang realistis muncul pada masa ini. Buddha digambarkan berdasarkan patung-patung dewa Apollo dari Yunani. Beberapa tradisi Buddha kemungkinan telah terpengaruh oleh agama Yunani kuno, contohnya konsep Bodhisattva merupakan pengenangan terhadap pahlawan-pahlawan dewata Yunani, dan beberapa praktik ritual Mahayana (membakar dupa, memberi bunga, dan menaruh makanan di altar) mirip dengan yang dilakukan oleh orang Yunani kuno.”

Kota Aleksandria (Iskandariyah) yang dibangun oleh Aleksander di Mesir sempat menjadi pusat peradaban dunia. Wikipedia mengatakan bahwa pada zaman dahulu, kota Alexandria (Iskandariyah) terkenal dengan bangunannya yang termasyhur, namun sekarang sudah lenyap seperti Faros, mercusuar kuno yang konon tingginya mencapai 110 meter dan diangap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, serta makam Alexander Agung. Dinasti Yunani, Ptolemeus mewarisi Mesir dari Alexander dan menguasai negeri itu sampai Caesar Octavianus Augustus mengalahkan Antonius dan Cleopatra pada tahun 30 SM. Dibawah Ptolemeus, Aleksandria berubah secara drastis. Sesungguhnya, kota itu “Selama suatu masa menjadi pusat perdagangan dan budaya dunia”, menurut Atlas of the Greek World. Pada puncak kejayaannya. Aleksandria berpenduduk sekitar 600.000 jiwa.

Daya tarik kota itu adalah perpustakaan kerajaannya. Didirikan pada awal abad ketiga Sebelum Masehi (SM) dan disponsori sepenuhnya oleh keluarga Ptolemeus. Dia biasanya dianggap didirikan pada awal abad ke-3 SM pada masa pemerintahan Ptolemeus II dari Mesir setelah bapaknya mendirikan kuil para Musai, Musæum (yang merupakan asal kata “Museum”). Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14, Perpustakaan Sorbonne yang katanya memiliki koleksi terbesar dizamannya hanya memiliki 1700 buku.

Para penguasa Mesir begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka sampai-sampai mereka memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.

Deretan panjang nama-nama pemikir besar yang bekerja di perpustakaan dan museum Aleksandria mencakup para cendikiawan kelas dunia. Para cendekiawan di Aleksandria menghasilkan karya-karya besar dalam bidang geometri, trigonometri, dan astronomi, serta bahasa, kesusastraan, dan kedokteran. Menurut kisah turun-temurun, di tempat inilah ke-72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan kitab-kitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, dengan demikian menghasilkan Septuaginta yang termasyhur itu.

Perpustakaan Aleksandria akhirnya lenyap sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 47 SM. Lenyapnya perpustakaan itu menyebabkan hilangnya segudang pengetahuan. Lenyap pula ratusan karya penulis drama Yunani serta catatan tentang 500 tahun pertama sejarah Yunani kecuali beberapa karya Herodotus, Tusidides dan Xenopon. Hal ini serupa dengan kejadian pada perpustakaan-perpustakaan di Baghdad ketika penyerbuan Genghis Khan dari bangsa Mongol ke Timur Tengah, bahkan sama ketika perpustakaan Baghdad mengalami penjarahan kembali ketika penyerbuan Amerika Serikat pada tahun 2003 lalu.

Salah satu hal yang paling memberikan dampak positif dari Aleksander Agung adalah usaha dan keberhasilannya untuk mejadikan Bahasa Yunani menjadi bahasa internasional. Berkat jasanya tersebut rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta”. Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno), dan Yunani. Karena bahasa Yunani dikenal luas saat itu, maka batu ini menjadi kunci untuk menerjemahkan hiroglif pada tahun 1822 oleh Jean-François Champollion, dan pada tahun 1823 oleh Thomas Young.

rosettaBatu Rosetta merupakan penemuan arkeologi yang secara tidak terduga muncul begitu saja. Pada pertengahan Juli 1799, ada sebuah laporan yang menyatakan bahwa batu itu tergeletak saja ditanah, ada pula laporan yang menyatakan bahwa batu tersebut ada di dalam dinding yang sangat tua yang diperintahkan oleh kompi pasukan Perancis untuk membersihkan jalan yang akan dipakai untuk memperlebar benteng pertahanan yang pada saat itu dikenal sebagai Benteng St. Julien. Batu ini ditemukan pada 15 Juli 1799 di sebuah kota bernama Rashid (Rosetta) di Mesir oleh Pierre Bouchard dan telah disimpan di Museum Britania (British Museum) sejak tahun 1802.

Sumber Gambar: panoramio.com

Berkat penemuan Batu Rosetta ini pulalah yang membuat para arkeolog dan sejarawan sukses menerjemahkan Inkripsi Behistun yang dibuat Darius Agung dalam tiga bahasa berskrip cuneiform yang berbeda: Persia Kuno, Elam, dan Babilonia. Wikipedia mengatakan: “The inscription includes three versions of the same text, written in three different cuneiform script languages: Old Persian, Elamite, and Babylonian (a later form of Akkadian). In effect, then, the inscription is to cuneiform what the Rosetta Stone is to Egyptian hieroglyphs: the document most crucial in the decipherment of a previously lost script”.

Jadi berkat penulisan bahasa Yunani di Batu Rosetta penerjemahan teks hiroglif lainnya dapat dilakukan dengan mudah. Dengan demikian, bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya menjadi terungkap. Hal ini sekaligus membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia.

Namun, meski Aleksander Agung adalah tokoh yang begitu luar biasa, pesan terakhir menjelang ajalnya adalah: Letakkanlah sepasang tangan saya di luar peti mati, agar orang-orang bisa menyaksikan, orang seagung saya setelah meninggal sepasang tangan ini juga hampa, tidak bisa membawa pergi apapun. Ini jelas merupakan ciri-ciri perkataan dari seorang hamba saleh yang seakan mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah bersifat sementara, bahwa bagaimanapun hebatnya kita dan berapapun harta benda yang kita miliki, tak ada apapun yang bisa dibawa ke akhirat, kecuali amal perbuatan.

koin babelTampak pada gambar diatas; koin kejayaan” perak Aleksander Agung yang dicetak di Babilonia pada tahun 322 SM, terkait kampanyenya di India. Koin tersebut menggambarkan Alexander Agung yang bertanduk dua sedang diberi mahkota oleh Dewi Nike. Tanda dua tanduk pada koin tersebut merupakan bukti kuat bahwa Alexander adalah Zulkarnain (pemilik dua tanduk). Sedangkan Dewi Nike dalam mitologi Yunani adalah dewi yang dihubungkan dengan kemenangan dan keberhasilan. Bangsa Romawi menyamakan Dewi Nike dengan Dewi Victoria. Menurut saya pribadi, adanya dewa-dewi yang sering dihubungkan dengan Alexander menandakan bahwa Alexander sering ditemani atau dibantu oleh sesamanya malaikat semasa hidupnya.

Sumber: id.wikipedia.org

 

1.4. Raja Mana Yang Disebut Zulkarnain?   Leave a comment


Sekarang, kita telah memiliki gambaran yang cukup jelas untuk membuat kesimpulan siapakah yang dipanggil dengan sebutan Zulkarnain oleh Allah? Apakah Koresh Agung atau Darius Agung atau Aleksander Agung?

Dari hasil analisis diatas didapat dua kesimpulan penting, yaitu yang pertama bahwa yang dimaksud dengan “suatu/sekelompok kaum” pada QS. 18:86 adalah suku Scythia/Schytian.

Untitled 4Sumber: en.wikipedia.org

Sejarah mencatat bahwa Kaisar Koresh Agung pernah melawan suku Schytia. Wikipedia mengatakan bahwa ia pernah berperang melawan Massagetae, yang merupakan sebutan untuk orang-orang kuat Schytia. Saking kuatnya suku tersebut, Koresh Agung tewas ditangan mereka.

Begitupun dengan Darius Agung, ia pernah berperang dengan Schytia, namun berbeda dengan Koresh Agung, pasukan Darius berhasil memukul mundur pasukan Schytia.

Berikut catatan dari Kamus Wikipedia:

Para Scythians adalah sekelompok suku nomaden utara Iran, berbicara dalam bahasa Indo-Iran yang telah menginvasi Media, membunuh Cyrus (Koresh Agung) dalam pertempuran, memberontak terhadap Darius dan mengancam untuk mengganggu perdagangan antara Asia Tengah dan tepi Laut Hitam. Mereka hidup diantara Sungai Danube, Sungai Don, dan Laut Hitam.

Darius menyeberangi Laut Hitam di Selat Bosphorus dengan menggunakan jembatan perahu. Darius menaklukkan sebagian besar Eropa Timur – bahkan menyeberangi Danube untuk melancarkan perang di Scythians. Darius menginvasi Scythia, dimana Scythians menghindari tentara Darius, menggunakan feints dan mundur ke timur sambil menghancurkan pedesaan, dengan memblokir sumur, mencegat konvoi, menghancurkan padang rumput dan pertempuran terus-menerus melawan tentara Darius. Tentara Darius terus mengejar tentara Scythian jauh ke tanah orang Skit. Pada akhirnya, setelah mengejar Scythians selama satu bulan, tentara Darius menderita kerugian karena kelelahan, kekurangan persediaan, dan terkena penyakit. Karena takut kehilangan lebih banyak tentara, ia menghentikan pengejaran dan menyuruh pasukannya berbaris di tepi Sungai Volga dan menuju ke Thrace. Namun ia telah berhasil menaklukkan sebagian wilayah Scythia untuk memaksa Scythians menghormati Persia.

Bagaimana dengan Aleksander Agung? Wikipedia mengatakan “Aleksander mengalahkan pasukan Scythia dalam Pertempuran Jaxartes”. Dalam pertempuran Jaxartes ini hampir saja nyawa Aleksander melayang, karena tenggorokannya sempat terkena sabetan pedang suku Scythia. Sebenarnya Aleksander tidak benar-benar mampu mengusir seluruh Scythians dari wilayahnya. Tetapi karena ia merilis tawanan perang tanpa uang tebusan, membuat Scythians tidak lagi pernah mengancam perbatasan utara kerajaan Aleksander.

Jadi diantara 3 Kaisar, terdapat 2 diantaranya yang berhasil memaksa suku Scythia lari tunggang langgang, yaitu Darius Agung dan Aleksander Agung.

Kesimpulan kedua bahwa yang dimaksud dengan kalimat “tempat terbit matahari” dari QS. 18:90 salah satunya adalah Gurun Sinai di Mesir.

Dari catatan sejarah, Darius Agung dan Aleksander Agung meluaskan kekuasaannya hingga ke Mesir. Sedangkan Koresh Agung luas imperiumnya tidak sampai ke Mesir. Nanti pada saat anaknya (Cambyses II) naik tahta, barulah Mesir menjadi bagian dari wilayah Persia.

Baik Darius Agung maupun Aleksander Agung memberikan sumbangsih yang berarti terhadap Mesir. Darius pernah melancarkan proyek-proyek pembangunan di Mesir serta membuat kodifikasi undang-undang untuk Mesir. Darius menghubungkan Laut Merah dengan Sungai Nil dengan membangun kanal dari Zaqāzīq ke Suez. Untuk meresmikan kanal, ia pergi ke Mesir pada tahun 497 SM. Darius juga membangun kanal yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah. Dalam kunjungannya ke Mesir, ia mendirikan monumen dan mengeksekusi Aryandes atas tuduhan pengkhianatan. Ketika Darius kembali ke Persia, ia mendapat kabar bahwa kodifikasi hukum Mesir telah diselesaikan. Selain itu, Darius membangun banyak kuil, dan merestorasi kuil yang sebelumnya hancur, serta membangun jalan di Mesir.

Nama Kaisar Aleksander Agung sangat terkenal di Mesir. Ia mampu membuat Mesir menjadi negeri yang makmur. Disana ia membuat ibukota yang sesuai dengan namanya, yaitu Aleksandria (Iskandariyah). Aleksandria dengan sangat pesat menjadi pusat perdagangan dan perekonomian, karena letaknya yang strategis sebagai kota pelabuhan.

Untitled 6Nama Aleksander Agung dalam Hieroglif Mesir (ditulis dari kanan ke kiri), sekitar 330 SM yang terdapat di Museum Louvre.

Sumber: id.wikipedia.org

Setelah melihat analisis diatas, maka kita belum mampu secara tepat untuk menentukan siapa sebenarnya sosok Zulkarnain yang dimaksud oleh ayat Qur’an; apakah Darius Agung, Raja Persia atau Aleksander Agung, Raja Makedonia.

%d blogger menyukai ini: